Seskab dan Kepala BP BUMN Bahas Percepatan Huntara dan Pemulihan Ekonomi Daerah Bencana
kabarsantai.web.id Upaya pemulihan pascabencana terus menjadi perhatian serius pemerintah pusat. Salah satu fokus utama adalah memastikan masyarakat terdampak dapat segera kembali menjalani kehidupan yang layak, aman, dan produktif. Dalam konteks inilah, Sekretaris Kabinet Teddy Indra Wijaya menerima kunjungan Kepala Badan Pengelola Badan Usaha Milik Negara BP BUMN, Dony Oskaria, untuk membahas langkah-langkah strategis pemulihan di wilayah terdampak bencana.
Pertemuan tersebut menegaskan komitmen kuat pemerintah dan BUMN untuk bergerak cepat dan terkoordinasi. Tidak hanya fokus pada aspek fisik seperti hunian, pembahasan juga menyentuh pemulihan sektor ekonomi, termasuk dukungan perbankan agar aktivitas masyarakat dapat kembali berjalan.
Hunian Sementara Jadi Prioritas Awal
Salah satu isu paling mendesak pascabencana adalah kebutuhan tempat tinggal. Kehilangan rumah tidak hanya berdampak pada kondisi fisik, tetapi juga memengaruhi stabilitas psikologis dan sosial masyarakat. Oleh karena itu, pembangunan hunian sementara atau huntara menjadi prioritas utama dalam tahap awal pemulihan.
Dalam pertemuan tersebut, Seskab menyampaikan bahwa BUMN telah mulai membangun ratusan unit huntara di daerah terdampak. Pembangunan ini dirancang agar cepat, layak huni, dan mampu menjadi tempat tinggal sementara hingga proses rekonstruksi permanen selesai. Langkah ini diharapkan dapat memberikan rasa aman dan kepastian bagi warga yang terdampak.
Peran Strategis BUMN di Daerah Bencana
Keterlibatan BUMN dalam pemulihan pascabencana dinilai sangat strategis. Dengan sumber daya, pengalaman, dan jaringan yang dimiliki, BUMN mampu bergerak cepat dalam skala besar. Tidak hanya membangun huntara, BUMN juga berperan dalam penyediaan infrastruktur pendukung seperti akses listrik, air bersih, dan fasilitas umum.
Kolaborasi ini menunjukkan bahwa BUMN tidak hanya berfungsi sebagai entitas bisnis, tetapi juga sebagai instrumen negara dalam menjalankan misi sosial. Kehadiran BUMN di wilayah terdampak bencana diharapkan dapat mempercepat pemulihan dan mengurangi beban masyarakat yang sedang berjuang bangkit.
Target Pembangunan dan Sinergi Lintas Lembaga
Dalam pembahasan tersebut, disampaikan bahwa pembangunan huntara dilakukan secara bertahap dengan target yang terukur. Sebagian unit ditargetkan rampung lebih awal sebagai langkah cepat penanganan darurat, sementara sisanya menyusul sesuai rencana yang telah disusun.
Pembangunan huntara oleh BUMN berjalan beriringan dengan program serupa yang dilakukan oleh BNPB dan Kementerian PUPR. Sinergi lintas lembaga ini dinilai penting agar tidak terjadi tumpang tindih, serta memastikan bantuan tersalurkan secara merata dan tepat sasaran.
Pemulihan Perbankan untuk Hidupkan Ekonomi Lokal
Selain hunian, pemulihan sektor ekonomi menjadi topik penting dalam pertemuan tersebut. Bencana sering kali melumpuhkan aktivitas ekonomi lokal, termasuk usaha kecil, perdagangan, dan layanan keuangan. Tanpa dukungan perbankan, masyarakat akan kesulitan memulai kembali usaha dan memenuhi kebutuhan hidup.
Pemerintah mendorong peran perbankan, khususnya bank-bank milik negara, untuk memberikan skema dukungan yang adaptif. Ini mencakup restrukturisasi kredit, kemudahan akses pembiayaan, serta pendampingan bagi pelaku usaha di daerah terdampak. Dengan dukungan ini, diharapkan roda ekonomi lokal dapat kembali berputar secara bertahap.
Pendekatan Menyeluruh: Fisik dan Sosial Ekonomi
Pemulihan pascabencana tidak dapat dilakukan secara parsial. Pembangunan fisik tanpa pemulihan ekonomi berisiko menciptakan ketergantungan jangka panjang. Sebaliknya, pemulihan ekonomi tanpa hunian yang layak juga sulit berjalan optimal. Oleh karena itu, pendekatan menyeluruh menjadi kunci keberhasilan.
Dalam konteks ini, pertemuan antara Seskab dan Kepala BP BUMN mencerminkan kesadaran pemerintah akan pentingnya integrasi kebijakan. Huntara menjadi fondasi awal, sementara dukungan perbankan dan ekonomi menjadi penggerak lanjutan agar masyarakat dapat kembali mandiri.
Dampak bagi Masyarakat Terdampak
Bagi masyarakat di wilayah bencana, percepatan pembangunan huntara dan dukungan ekonomi membawa harapan baru. Kehadiran hunian sementara memberikan ruang aman untuk beristirahat dan memulihkan kondisi keluarga. Sementara itu, dukungan perbankan membuka peluang untuk kembali bekerja, berdagang, dan membangun masa depan.
Psikologis masyarakat juga turut terbantu ketika melihat negara hadir secara nyata. Bantuan yang terkoordinasi dan terukur menciptakan rasa percaya bahwa mereka tidak ditinggalkan dalam masa sulit.
Tantangan di Lapangan dan Pengawasan
Meski komitmen telah ditegaskan, tantangan di lapangan tetap ada. Faktor geografis, cuaca, dan kondisi infrastruktur dapat memengaruhi kecepatan pembangunan. Oleh karena itu, pengawasan dan evaluasi berkelanjutan menjadi hal yang tidak kalah penting.
Pemerintah menekankan pentingnya transparansi dan akuntabilitas dalam pelaksanaan program. Setiap unit huntara yang dibangun dan setiap skema dukungan ekonomi yang dijalankan harus benar-benar sampai kepada masyarakat yang membutuhkan.
Harapan Pemulihan Berkelanjutan
Pertemuan ini diharapkan menjadi awal dari langkah-langkah pemulihan yang lebih luas dan berkelanjutan. Tidak hanya fokus pada fase darurat, tetapi juga pada rekonstruksi jangka panjang dan peningkatan ketahanan daerah terhadap bencana di masa depan.
Dengan kolaborasi antara pemerintah pusat, BUMN, dan lembaga terkait, pemulihan pascabencana diharapkan tidak hanya mengembalikan kondisi seperti semula, tetapi juga membangun fondasi yang lebih kuat. Upaya ini menjadi bukti bahwa negara hadir untuk memastikan masyarakat dapat bangkit, pulih, dan melanjutkan kehidupan dengan lebih baik.

Cek Juga Artikel Dari Platform museros.site
