BAI Tetapkan Jajaran Komisaris–Direksi, Darwin Saleh Jadi Dirut
PT Borneo Alumina Indonesia (BAI) secara resmi menetapkan susunan Dewan Komisaris dan Direksi terbaru sebagai hasil keputusan Rapat Umum Pemegang Saham Tahunan (RUPST) Tahun Buku 2025. RUPST tersebut diselenggarakan di Jakarta pada Jumat (12/12/2025) dan menjadi momentum penting dalam penguatan tata kelola serta kepemimpinan perusahaan yang tengah mengemban proyek strategis nasional di sektor hilirisasi aluminium.
BAI merupakan anak perusahaan strategis hasil kolaborasi dua BUMN pertambangan besar, yakni PT Indonesia Asahan Aluminium (INALUM) dan PT Aneka Tambang Tbk (ANTAM). Perusahaan ini berperan sentral dalam pengembangan proyek Smelter Grade Alumina Refinery (SGAR) yang menjadi tulang punggung agenda kemandirian industri aluminium nasional.
Langkah Strategis Perkuat Tata Kelola
Plt. Corporate Secretary PT BAI, Anshor Phasa, menjelaskan bahwa perubahan susunan Dewan Komisaris dan Direksi ini merupakan langkah strategis pemegang saham. Tujuannya adalah untuk memperkuat penerapan prinsip Good Corporate Governance (GCG) sekaligus memastikan akselerasi penyelesaian proyek strategis nasional yang tengah dijalankan perusahaan.
“Perubahan susunan pengurus ini merupakan bagian dari upaya pemegang saham untuk memperkuat tata kelola perusahaan dan memastikan proyek strategis nasional yang dikelola BAI dapat berjalan sesuai target,” ujar Anshor.
Menurutnya, dinamika industri aluminium global serta tantangan hilirisasi di dalam negeri membutuhkan kepemimpinan yang kuat, berpengalaman, dan memahami secara teknis maupun manajerial kompleksitas proyek SGAR.
Darwin Saleh Siregar Resmi Jabat Direktur Utama
Salah satu keputusan penting dalam RUPST tersebut adalah penunjukan Darwin Saleh Siregar sebagai Direktur Utama PT Borneo Alumina Indonesia. Penunjukan ini dinilai sebagai langkah berkelanjutan karena Darwin bukan figur baru di lingkungan BAI.
Sebelum menjabat sebagai Direktur Utama, Darwin mengemban posisi Direktur Teknik dan Proyek PT BAI. Dalam peran tersebut, ia memegang tanggung jawab strategis dalam memimpin pengembangan, konstruksi, hingga pengelolaan proyek SGAR yang berlokasi di Kalimantan Barat.
Berdasarkan informasi dari laman resmi BAI, Darwin merupakan lulusan Teknik Kimia Universitas Sumatera Utara (2000) dan melanjutkan pendidikan Magister Ekonomi Manajemen di universitas yang sama pada 2016. Latar belakang teknik dan manajerial ini menjadi bekal penting dalam mengelola proyek industri skala besar yang sarat tantangan teknis dan finansial.
Rekam Jejak di INALUM dan Proyek SGAR
Sebelum bergabung dengan BAI, Darwin memiliki pengalaman panjang di INALUM. Ia pernah menjabat sebagai Deputy General Manager (DGM) Business Planning PT INALUM pada periode April hingga Oktober 2018. Selain itu, Darwin juga dipercaya sebagai Ketua Tim Proyek SGAR di INALUM pada periode November 2016 hingga April 2018.
Pengalaman tersebut membuat Darwin memahami secara mendalam visi besar hilirisasi aluminium nasional, termasuk integrasi rantai pasok dari bauksit hingga produk aluminium bernilai tambah. Sejak April 2020, Darwin menjabat sebagai Direktur Teknik dan Proyek SGAR di BAI dan berperan penting dalam memastikan proyek berjalan sesuai rencana.
Dengan penunjukan sebagai Direktur Utama, Darwin diharapkan mampu melanjutkan dan mempercepat transformasi BAI menjadi pilar utama industri alumina dan aluminium nasional.
Susunan Direksi PT BAI
Selain Direktur Utama, RUPST juga menetapkan susunan Direksi PT BAI sebagai berikut:
- Direktur Utama: Darwin Saleh Siregar
- Direktur Produksi: Dindin Rajidin
- Direktur Keuangan dan SDM: Preti Agustina Hidayati
- Direktur Komersial dan Pengembangan Bisnis: Eddy Permata Purba
Formasi ini dirancang untuk memastikan keseimbangan antara aspek teknis, keuangan, sumber daya manusia, serta pengembangan bisnis. Dengan struktur tersebut, manajemen optimistis dapat menjawab tantangan operasional sekaligus peluang ekspansi di masa depan.
Jajaran Dewan Komisaris Baru
Selain Direksi, RUPST juga menetapkan susunan Dewan Komisaris PT BAI yang baru, yaitu:
- Komisaris Utama: Jevi Amri
- Komisaris: Sy. Faisal Alkadrie
Peran Dewan Komisaris dinilai krusial dalam mengawasi kinerja Direksi serta memastikan perusahaan berjalan sesuai prinsip GCG dan kepatuhan hukum. Kehadiran komisaris dengan latar belakang dan pengalaman yang relevan diharapkan dapat memperkuat fungsi pengawasan dan pengambilan keputusan strategis.
Efektif Sejak RUPST dan Patuh Regulasi
Anshor Phasa menegaskan bahwa perubahan susunan pengurus ini berlaku efektif sejak tanggal pelaksanaan RUPST dan telah dilakukan sesuai Anggaran Dasar Perseroan serta ketentuan hukum yang berlaku.
“Seluruh proses pengangkatan dan penetapan pengurus dilakukan sesuai prinsip kepatuhan hukum dan tata kelola perusahaan yang baik,” ujarnya.
Hal ini penting mengingat BAI mengelola proyek strategis nasional yang menjadi perhatian pemerintah, investor, serta publik luas. Transparansi dan kepatuhan menjadi kunci dalam menjaga kepercayaan para pemangku kepentingan.
Optimisme Hadapi Tantangan Hilirisasi
Dengan formasi manajemen baru, PT BAI optimistis dapat memperkuat kepemimpinan dan soliditas organisasi dalam menghadapi tantangan industri di tahun-tahun mendatang. Proyek SGAR tidak hanya memiliki nilai ekonomi, tetapi juga nilai strategis bagi Indonesia dalam mengurangi ketergantungan impor alumina dan meningkatkan nilai tambah sumber daya mineral dalam negeri.
Manajemen BAI juga menyampaikan apresiasi setinggi-tingginya kepada seluruh karyawan atas dedikasi dan profesionalisme yang telah diberikan selama ini. Di bawah kepemimpinan yang baru, seluruh “Insan BAI” diajak untuk terus mempererat kolaborasi, menjaga integritas, serta berkontribusi aktif dalam mencapai target jangka panjang perusahaan.
Dorong Kemandirian Industri Aluminium Nasional
Penetapan jajaran Direksi dan Komisaris baru ini menegaskan komitmen BAI dalam mendukung agenda besar hilirisasi mineral dan kemandirian industri aluminium nasional. Dengan kepemimpinan yang berpengalaman dan teruji, BAI diharapkan mampu menjadi motor penggerak industri alumina Indonesia yang berdaya saing global.
Ke depan, keberhasilan BAI tidak hanya diukur dari capaian produksi dan kinerja finansial, tetapi juga dari kontribusinya terhadap pembangunan daerah, penciptaan lapangan kerja, serta penguatan posisi Indonesia dalam rantai pasok aluminium dunia.
Baca Juga : Balai Cipta Karya Aceh Perkuat Akses dan Sarana TPA
Cek Juga Artikel Dari Platform : olahraga

