Kemlu RI Pantau Eskalasi Ketegangan Terbaru di Yaman
Kemlu RI Pantau Eskalasi Ketegangan Terbaru di Yaman
Kementerian Luar Negeri Republik Indonesia menyatakan terus mengikuti dengan saksama perkembangan situasi keamanan di Republik Yaman yang kembali mengalami eskalasi ketegangan. Pernyataan ini disampaikan menyusul meningkatnya aktivitas militer dan dinamika politik di sejumlah wilayah strategis, khususnya di Hadramaut dan Al-Mahra, dua provinsi timur Yaman yang selama ini relatif lebih stabil dibanding kawasan konflik lainnya.
Melalui pernyataan resmi yang disampaikan akun X Kementerian Luar Negeri Republik Indonesia, pemerintah Indonesia menegaskan keprihatinannya terhadap perkembangan terbaru tersebut. Eskalasi yang terjadi dinilai berpotensi memperburuk kondisi keamanan nasional Yaman serta memperpanjang penderitaan rakyat sipil yang selama bertahun-tahun hidup di tengah konflik berkepanjangan.
Perhatian Indonesia terhadap Dinamika Keamanan Yaman
Indonesia menilai bahwa setiap peningkatan ketegangan di Yaman memiliki dampak kemanusiaan yang serius. Konflik yang telah berlangsung lebih dari satu dekade itu telah menimbulkan krisis kemanusiaan besar, dengan jutaan warga membutuhkan bantuan pangan, kesehatan, dan perlindungan dasar.
Kemlu RI menegaskan bahwa pemerintah Indonesia secara konsisten mendorong penyelesaian konflik Yaman melalui jalur damai, dialog politik yang inklusif, serta penghormatan terhadap kedaulatan dan keutuhan wilayah negara tersebut. Dalam konteks eskalasi terbaru, Indonesia kembali menyerukan semua pihak untuk menahan diri dan menghindari langkah-langkah sepihak yang dapat memperburuk situasi.
Pergerakan Militer Dewan Transisi Selatan
Salah satu faktor utama meningkatnya ketegangan adalah aktivitas politik dan militer Dewan Transisi Selatan (Southern Transitional Council/STC). Kelompok ini dilaporkan melakukan pergerakan militer sepihak dan berhasil mencatatkan kemajuan teritorial di wilayah timur Yaman, khususnya di kegubernuran Hadramaut dan Al-Mahra.
Langkah STC tersebut memicu kekhawatiran karena dinilai mengancam stabilitas keamanan dan berpotensi memicu konflik baru di kawasan yang selama ini menjadi jalur logistik penting dan relatif aman. Perluasan pengaruh STC juga dinilai dapat memicu benturan dengan kelompok-kelompok lain, baik yang pro-pemerintah maupun aktor bersenjata lokal.
Indonesia, melalui Kemlu RI, menyampaikan bahwa tindakan sepihak semacam ini berisiko memperumit upaya perdamaian yang tengah diupayakan oleh komunitas internasional, termasuk Perserikatan Bangsa-Bangsa.
Penarikan Pasukan Saudi dari Aden
Di tengah eskalasi tersebut, media internasional melaporkan adanya penarikan pasukan Arab Saudi dari kota Aden, Yaman selatan. Pasukan Saudi diketahui meninggalkan markas besar koalisi Arab yang selama ini mendukung otoritas Yaman yang diakui secara internasional sejak 2015.
Menurut sumber pemerintahan lokal di Aden, penarikan ini dilakukan bersamaan dengan meningkatnya perebutan wilayah di provinsi-provinsi timur oleh kelompok separatis. Truk-truk besar dilaporkan mengangkut peralatan militer terakhir milik tentara Saudi dari markas komando koalisi di kawasan Al-Shaab menuju provinsi Hadramaut, yang berbatasan langsung dengan wilayah Saudi.
Perkembangan ini menimbulkan spekulasi mengenai perubahan strategi koalisi Arab di Yaman dan potensi dampaknya terhadap peta kekuatan di lapangan.
Dampak Regional dan Internasional
Eskalasi ketegangan di Yaman tidak hanya berdampak pada situasi domestik negara tersebut, tetapi juga berpotensi memengaruhi stabilitas kawasan Timur Tengah secara lebih luas. Yaman memiliki posisi strategis di jalur pelayaran internasional, terutama di sekitar Selat Bab el-Mandeb, yang menjadi penghubung penting antara Laut Merah dan Teluk Aden.
Gangguan keamanan di kawasan ini dapat berdampak pada arus perdagangan global, keamanan energi, serta stabilitas politik negara-negara sekitar. Oleh karena itu, perhatian internasional terhadap dinamika konflik Yaman tetap tinggi, termasuk dari negara-negara non-kawasan seperti Indonesia.
Sikap Indonesia: Diplomasi dan Kemanusiaan
Sebagai negara yang aktif dalam diplomasi perdamaian dan kemanusiaan, Indonesia menempatkan isu Yaman dalam kerangka kepedulian terhadap stabilitas global dan perlindungan warga sipil. Kemlu RI menegaskan komitmen Indonesia untuk terus mendukung upaya perdamaian yang dipimpin PBB, termasuk gencatan senjata, dialog politik, dan bantuan kemanusiaan.
Indonesia juga menaruh perhatian terhadap keselamatan warga negara Indonesia yang berada di kawasan Timur Tengah. Pemantauan situasi keamanan dilakukan secara berkelanjutan untuk memastikan langkah antisipatif jika diperlukan.
Harapan terhadap Penyelesaian Damai
Pemerintah Indonesia berharap seluruh pihak yang terlibat dalam konflik Yaman dapat mengedepankan dialog dan kompromi politik. Eskalasi militer dinilai hanya akan memperpanjang penderitaan rakyat Yaman dan memperumit proses rekonsiliasi nasional.
Dalam konteks eskalasi terbaru di Hadramaut dan Al-Mahra, Indonesia menyerukan penghormatan terhadap kesepakatan-kesepakatan yang telah ada serta dukungan terhadap proses politik inklusif yang melibatkan seluruh elemen masyarakat Yaman.
Penutup
Eskalasi ketegangan terbaru di Yaman menjadi pengingat bahwa konflik di negara tersebut masih jauh dari kata selesai. Melalui pemantauan aktif dan pernyataan resminya, Kemlu RI menegaskan posisi Indonesia yang konsisten mendukung perdamaian, stabilitas, dan perlindungan warga sipil.
Di tengah dinamika politik dan militer yang terus berubah, Indonesia berharap komunitas internasional dapat bersatu mendorong solusi damai yang berkelanjutan, sehingga rakyat Yaman dapat segera keluar dari lingkaran konflik dan membangun kembali kehidupan yang aman dan bermartabat.
Baca Juga : 30 Ribu BBL Sitaan di Duta Gardenia Dilepas di Labuan Caringin
Jangan Lewatkan Info Penting Dari : mabar

