BPBD Mataram Waspadai Siklon Tropis dan Rob Ekstrem
Ancaman Cuaca Ekstrem Mengintai Pesisir Mataram
Badan Penanggulangan Bencana Daerah BPBD Kota Mataram, Nusa Tenggara Barat (NTB), mengeluarkan imbauan kewaspadaan kepada masyarakat pesisir menyusul potensi cuaca ekstrem dan fenomena rob atau genangan air laut. Ancaman tersebut diprakirakan akan mencapai puncaknya pada periode Februari hingga Maret 2026.
Imbauan ini terutama ditujukan kepada warga yang bermukim di kawasan pesisir serta para nelayan yang masih aktif melaut. Cuaca laut yang tidak menentu dinilai berpotensi menimbulkan risiko keselamatan dan kerugian materiil jika tidak diantisipasi dengan baik.
Dasar Imbauan: Prakiraan Siklon Tropis
Pelaksana Tugas Kepala Pelaksana BPBD Kota Mataram, Akhamd Muzaki, menjelaskan bahwa imbauan tersebut merujuk pada prakiraan cuaca dari BMKG.
Menurut BMKG, terdapat potensi siklon tropis yang dapat memengaruhi hampir seluruh wilayah perairan NTB, termasuk pesisir Mataram. Siklon tropis ini berpotensi memicu angin kencang, hujan lebat, serta peningkatan tinggi gelombang laut.
“Dengan kondisi itu, kami mengimbau nelayan agar tetap waspada terhadap karakter cuaca laut yang bisa saja berubah kapan saja,” ujar Akhamd Muzaki di Mataram, Kamis, 8 Januari 2026.
Nelayan Tidak Dilarang Melaut, Tapi Diminta Waspada
BPBD menegaskan bahwa pihaknya tidak melarang nelayan untuk melaut. Namun, kewaspadaan tetap menjadi kunci utama. Nelayan diminta terus memantau perkembangan cuaca, baik melalui informasi resmi BMKG maupun tanda-tanda alam di laut.
Muzaki menyebut bahwa nelayan pada dasarnya memiliki pemahaman yang baik mengenai karakteristik laut. Meski demikian, kondisi cuaca ekstrem akibat siklon tropis dapat berubah dengan cepat dan sulit diprediksi, sehingga kehati-hatian tetap diperlukan.
Perkiraan Tinggi Gelombang di Pesisir NTB
Berdasarkan data yang dihimpun BPBD dari BMKG, wilayah Ampenan, Kota Mataram, diperkirakan akan menghadapi gelombang laut dengan ketinggian 0,5 hingga 1,25 meter. Meski tergolong sedang, gelombang ini tetap berisiko, terutama bagi perahu kecil dan aktivitas di garis pantai.
Sementara itu, wilayah pesisir selatan NTB diprediksi mengalami gelombang yang lebih tinggi, yakni 1,25 hingga 2,5 meter. Kondisi ini berpotensi membahayakan aktivitas pelayaran dan perikanan, khususnya bagi nelayan tradisional.
Ancaman Tambahan: Hujan dan Angin Kencang
Selain gelombang tinggi, ancaman lain yang perlu diwaspadai adalah hujan lebat yang disertai angin kencang secara tiba-tiba. Kondisi ini merupakan dampak dari dinamika cuaca di kabupaten-kabupaten sekitar Mataram yang saling memengaruhi.
Angin kencang berpotensi merusak perahu nelayan, bangunan semi permanen di pesisir, serta memperparah genangan rob di kawasan rendah. BPBD mengingatkan masyarakat untuk segera mencari tempat aman jika cuaca memburuk.
Fenomena Rob Kian Mengkhawatirkan
Fenomena rob atau genangan air laut pasang menjadi perhatian serius BPBD Kota Mataram. Sejumlah kawasan pesisir dilaporkan mengalami arus rob yang semakin deras dibandingkan tahun-tahun sebelumnya.
Wilayah yang terdampak antara lain Bintaro, Pondok Perasi, Kampung Bugis, dan Mapak. Di kawasan-kawasan ini, air laut pasang kerap masuk ke permukiman warga, merendam jalan, dan mengganggu aktivitas sehari-hari.
Abrasi dan Siklon Jadi Pemicu Utama
Menurut Akhamd Muzaki, peningkatan intensitas rob dipicu oleh dua faktor utama, yakni abrasi pantai dan pengaruh siklon tropis yang berembus dari Samudera Hindia bagian selatan.
Abrasi menyebabkan garis pantai semakin mundur, sehingga permukiman warga menjadi lebih rentan terhadap pasang maksimum. Ketika abrasi bertemu dengan gelombang tinggi dan angin kencang, risiko banjir rob meningkat secara signifikan.
Dampak Sosial dan Ekonomi Warga Pesisir
Rob ekstrem dan cuaca buruk tidak hanya berdampak pada keselamatan, tetapi juga memengaruhi kondisi sosial dan ekonomi warga pesisir. Aktivitas melaut terganggu, pendapatan nelayan menurun, dan sebagian warga harus mengeluarkan biaya tambahan untuk memperbaiki rumah atau fasilitas yang rusak akibat genangan air laut.
Jika kondisi ini berlangsung lama, pemulihan ekonomi masyarakat pesisir dikhawatirkan akan semakin berat.
Imbauan dan Langkah Antisipasi BPBD
BPBD Kota Mataram mengimbau masyarakat untuk melakukan sejumlah langkah antisipasi, antara lain:
- Memantau informasi cuaca dan peringatan dini dari BMKG secara berkala
- Menghindari aktivitas di pesisir saat gelombang dan angin meningkat
- Mengamankan perahu dan barang berharga ke tempat yang lebih aman
- Melaporkan kejadian rob atau kerusakan akibat cuaca ekstrem kepada aparat setempat
Langkah-langkah ini diharapkan dapat mengurangi risiko dan dampak yang ditimbulkan oleh cuaca ekstrem.
Penutup: Waspada Jadi Kunci Keselamatan
Potensi siklon tropis dan rob ekstrem yang diprediksi memuncak pada Februari–Maret 2026 menjadi pengingat penting bagi warga pesisir Kota Mataram untuk meningkatkan kewaspadaan. Cuaca ekstrem merupakan fenomena alam yang tidak bisa dihindari, tetapi dampaknya dapat diminimalkan dengan kesiapsiagaan dan informasi yang tepat.
BPBD Kota Mataram menegaskan komitmennya untuk terus berkoordinasi dengan BMKG dan pihak terkait demi menjaga keselamatan masyarakat. Di tengah dinamika cuaca yang semakin tidak menentu, kewaspadaan bersama menjadi kunci utama melindungi kehidupan dan penghidupan warga pesisir.
Baca Juga : Gelombang Laut Terjang Area Parkir Mal di Manado
Cek Juga Artikel Dari Platform : monitorberita

