Prabowo Terharu Gereja Malang Bantu Acara 1 Abad NU
kabarsantai.web.id Presiden Prabowo Subianto mengungkapkan rasa haru dan apresiasinya terhadap kerukunan antar umat beragama yang terlihat kuat di Kota Malang, Jawa Timur. Dalam sebuah agenda besar keagamaan, Prabowo menyoroti bagaimana gereja-gereja di Malang ikut membantu menyukseskan rangkaian peringatan satu abad Nahdlatul Ulama.
Pernyataan Presiden ini menjadi perhatian publik karena menggambarkan praktik nyata toleransi dan gotong royong lintas iman di tengah masyarakat. Dalam suasana yang penuh kebersamaan, dukungan dari berbagai elemen, termasuk komunitas non-Muslim, menunjukkan bahwa Indonesia memiliki modal sosial yang kuat untuk menjaga persatuan.
Prabowo menyampaikan bahwa dirinya merasa terharu ketika mendengar laporan panitia mengenai kontribusi gereja-gereja dalam membantu kelancaran acara besar tersebut. Baginya, hal itu merupakan contoh luar biasa tentang bagaimana kehidupan beragama di Indonesia bisa berjalan harmonis.
Kerukunan Antar Umat Beragama di Malang
Kota Malang dikenal sebagai salah satu kota pendidikan dan kota budaya di Jawa Timur. Kota ini juga menjadi ruang perjumpaan berbagai komunitas agama dan etnis. Dalam kehidupan sehari-hari, toleransi dan kebersamaan sudah lama menjadi bagian dari identitas sosial masyarakatnya.
Kerukunan yang ditunjukkan dalam acara satu abad NU menjadi bukti bahwa nilai persaudaraan dapat melampaui batas-batas agama. Ketika sebuah acara besar membutuhkan dukungan banyak pihak, masyarakat Malang memperlihatkan semangat gotong royong yang kuat.
Dukungan gereja-gereja dalam rangkaian kegiatan NU menunjukkan bahwa kerja sama lintas iman bukan sekadar slogan, tetapi praktik nyata yang hidup di tengah masyarakat.
Peringatan 1 Abad NU sebagai Momentum Kebangsaan
Peringatan satu abad Nahdlatul Ulama bukan hanya acara internal organisasi keagamaan. NU sebagai organisasi Islam terbesar di Indonesia memiliki peran sosial dan kebangsaan yang sangat besar.
Selama satu abad, NU berkontribusi dalam pendidikan, dakwah moderat, pemberdayaan masyarakat, hingga menjaga persatuan bangsa. Karena itu, peringatan satu abad NU dipandang sebagai momentum refleksi nasional tentang pentingnya nilai kebersamaan dan Islam yang ramah.
Acara besar seperti Mujahadah Kubro juga menjadi simbol kekuatan spiritual sekaligus kekuatan sosial NU dalam kehidupan bangsa.
Kehadiran Presiden dalam agenda tersebut memperkuat pesan bahwa NU dan negara memiliki sinergi dalam menjaga stabilitas sosial.
Gereja Membantu sebagai Simbol Persaudaraan
Kontribusi gereja-gereja di Malang dalam mendukung acara satu abad NU menjadi sorotan utama dalam pernyataan Presiden. Bantuan tersebut mencerminkan bahwa hubungan antar umat beragama di Indonesia dapat berjalan dalam semangat persaudaraan.
Bantuan lintas agama dalam acara besar keagamaan bukan hal yang sering terlihat di banyak negara. Namun di Indonesia, praktik semacam ini menjadi bagian dari budaya gotong royong.
Ketika gereja ikut membantu acara NU, pesan yang muncul sangat kuat: bahwa perbedaan keyakinan tidak menjadi penghalang untuk saling mendukung dalam kehidupan sosial.
Hal ini juga menunjukkan bahwa toleransi tidak hanya tentang menghormati, tetapi juga tentang berpartisipasi dalam kebaikan bersama.
Prabowo Kenang Ajaran Gus Dur
Dalam momen tersebut, Prabowo juga mengingat ajaran Presiden keempat Republik Indonesia, Abdurrahman Wahid atau Gus Dur. Gus Dur dikenal sebagai tokoh yang sangat menekankan pluralisme, kemanusiaan, dan persaudaraan lintas agama.
Ajaran Gus Dur sering menjadi rujukan dalam membangun Indonesia yang inklusif. Ia menekankan bahwa agama seharusnya menjadi sumber kedamaian, bukan konflik.
Dengan mengingat Gus Dur, Prabowo menegaskan bahwa semangat toleransi yang ditunjukkan di Malang sejalan dengan nilai-nilai kebangsaan yang diwariskan para pendiri bangsa.
Kerukunan yang terjadi bukan hanya peristiwa sosial, tetapi juga cerminan dari cita-cita Indonesia yang beragam namun tetap satu.
Toleransi sebagai Kekuatan Bangsa
Indonesia merupakan negara dengan keberagaman agama dan budaya yang sangat luas. Dalam kondisi seperti ini, toleransi menjadi kunci utama menjaga persatuan.
Kerukunan yang ditunjukkan di Malang memperlihatkan bahwa toleransi bukan hanya wacana elite, tetapi juga praktik masyarakat sehari-hari. Ketika komunitas agama saling membantu, stabilitas sosial akan lebih terjaga.
Presiden menilai bahwa hal seperti ini harus menjadi contoh bagi daerah lain. Persatuan bangsa akan semakin kuat jika masyarakat mampu merawat kebersamaan di tengah perbedaan.
Toleransi juga menjadi modal penting dalam menghadapi tantangan global, termasuk isu ekstremisme dan polarisasi sosial.
Sinergi Ulama dan Pemerintah
Kehadiran Presiden dalam acara Mujahadah Kubro juga menunjukkan pentingnya sinergi antara pemerintah dan ulama. Ulama memiliki peran besar dalam membimbing masyarakat dan menjaga harmoni sosial.
Dalam banyak kesempatan, NU menjadi mitra strategis pemerintah dalam menjaga moderasi beragama. Sinergi ini diharapkan mampu memperkuat stabilitas nasional dan mendukung pembangunan.
Dengan dukungan lintas agama seperti yang terlihat di Malang, sinergi ini semakin luas karena melibatkan seluruh elemen masyarakat.
Kesimpulan
Presiden Prabowo Subianto mengaku terharu melihat gereja-gereja di Malang ikut membantu menyukseskan rangkaian peringatan satu abad Nahdlatul Ulama. Peristiwa ini menjadi simbol kuat kerukunan antar umat beragama dan gotong royong lintas iman.
Kehadiran gereja dalam mendukung acara NU menunjukkan bahwa toleransi di Indonesia bukan sekadar konsep, tetapi praktik nyata yang hidup di masyarakat. Prabowo juga mengenang ajaran Gus Dur tentang pluralisme dan persaudaraan.
Momentum ini menjadi pesan penting bahwa persatuan bangsa dapat terjaga jika masyarakat terus merawat kebersamaan, menghormati perbedaan, dan bekerja sama demi kebaikan bersama.

Cek Juga Artikel Dari Platform faktagosip.web.id
