Ular Sanca Dievakuasi dari Permukiman, Ini Penjelasannya
kabarsantai.web.id Sebuah laporan warga membawa tim penyelamatan satwa pada perjumpaan tak terduga di kawasan permukiman Gresik. Seekor ular sanca kembang dengan panjang sekitar satu meter ditemukan hidup di area perumahan, tepatnya di wilayah Driyorejo. Kejadian ini menjadi potret nyata bagaimana ruang hidup manusia dan satwa liar kian beririsan, terutama di kawasan penyangga perkotaan.
Respons atas temuan tersebut dilakukan oleh tim Penyelamatan Satwa Liar Ilegal Matawali dari Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam Jawa Timur. Langkah cepat ini diambil bukan untuk mengejar sensasi, melainkan demi keselamatan warga sekaligus kesejahteraan satwa yang terlibat.
Laporan Warga dan Koordinasi Cepat
Laporan awal disampaikan oleh seorang warga setempat dan segera diteruskan kepada otoritas konservasi melalui jalur koordinasi resmi. Petugas kemudian bergerak cepat dengan memastikan kondisi sekitar aman dan terkendali. Komunikasi intens dilakukan dengan pihak pelapor dan warga sekitar agar tidak terjadi kepanikan.
Pendekatan seperti ini menjadi kunci dalam penanganan satwa liar di permukiman. Warga diminta menjaga jarak, tidak melakukan tindakan berisiko, serta menyerahkan penanganan sepenuhnya kepada petugas berpengalaman.
Diduga Berasal dari Rumah Kosong
Berdasarkan keterangan warga, ular tersebut diduga berasal dari rumah kosong di sekitar lokasi. Bangunan tak berpenghuni kerap menjadi tempat persembunyian ideal bagi satwa liar, karena minim aktivitas manusia dan menyediakan ruang gelap serta tenang.
Fenomena ini menunjukkan bahwa celah-celah ruang kota—seperti rumah kosong, saluran air, atau lahan terlantar—dapat berfungsi sebagai koridor pergerakan satwa. Ketika kondisi lingkungan berubah, satwa pun terdorong keluar dan berpotensi memasuki area hunian aktif.
Mengenal Sanca Kembang
Ular yang dievakuasi diidentifikasi sebagai Malaypython reticulatus atau sanca kembang. Jenis ini dikenal sebagai salah satu ular terpanjang di dunia dan tersebar luas di Asia Tenggara. Meski berukuran besar, sanca kembang umumnya tidak agresif terhadap manusia selama tidak terancam.
Secara hukum, sanca kembang tidak termasuk satwa yang dilindungi. Namun demikian, prinsip penanganannya tetap mengedepankan aspek humanis, aman, dan bertanggung jawab. Setiap satwa liar memiliki peran ekologis yang penting, sehingga penanganan harus meminimalkan stres dan risiko cedera.
Evakuasi Humanis dan Penanganan Lanjutan
Proses evakuasi dilakukan dengan peralatan standar dan teknik yang aman. Petugas memastikan ular tidak melukai diri sendiri maupun warga sekitar. Setelah berhasil diamankan, satwa dibawa ke kandang Unit Penyelamatan Satwa BKSDA Jawa Timur di Sidoarjo untuk penanganan lanjutan.
Di fasilitas tersebut, satwa akan menjalani observasi kondisi kesehatan dan perilaku. Langkah ini penting untuk menentukan tindakan berikutnya, apakah satwa dapat dilepasliarkan kembali ke habitat yang sesuai atau memerlukan perawatan tambahan.
Meningkatnya Interaksi Manusia–Satwa
Peristiwa ini menjadi pengingat akan meningkatnya interaksi antara manusia dan satwa liar di kawasan permukiman. Alih fungsi lahan, ekspansi perumahan, serta perubahan ekosistem mendorong satwa mencari ruang hidup baru. Akibatnya, perjumpaan tak terduga seperti ini semakin sering terjadi.
Interaksi tersebut tidak selalu berujung konflik, tetapi tetap membutuhkan kewaspadaan. Tanpa pemahaman yang tepat, reaksi spontan manusia bisa membahayakan diri sendiri maupun satwa.
Pentingnya Literasi Publik
Literasi publik mengenai satwa liar menjadi pagar pertama dalam mencegah konflik. Warga perlu memahami langkah yang benar saat menemukan satwa liar, seperti tidak panik, tidak mencoba menangkap sendiri, dan segera melapor ke pihak berwenang.
Edukasi ini juga mencakup pemahaman bahwa tidak semua satwa liar berbahaya. Banyak insiden dapat ditangani dengan aman jika prosedur yang tepat diikuti dan komunikasi berjalan baik.
Peran Otoritas Konservasi
Kecepatan respons dari otoritas konservasi menunjukkan pentingnya sistem penanganan yang siap siaga. Koordinasi lintas pihak, mulai dari warga hingga petugas lapangan, menjadi kunci keberhasilan evakuasi tanpa korban.
Otoritas konservasi juga berperan dalam menyeimbangkan kepentingan keselamatan manusia dan perlindungan satwa. Pendekatan ini menegaskan bahwa konservasi bukan sekadar melindungi satwa di hutan, tetapi juga mengelola perjumpaan di ruang hidup manusia.
Berbagi Ruang dengan Satwa
Peristiwa sanca di permukiman bukan alasan untuk meniadakan satwa dari lanskap kita. Sebaliknya, kejadian ini mengajak semua pihak menata ulang cara berbagi ruang. Perencanaan kota yang memperhatikan koridor satwa, pengelolaan lahan kosong, dan pengurangan titik persembunyian berisiko dapat membantu meminimalkan perjumpaan negatif.
Empati menjadi kompas dalam menyikapi peristiwa semacam ini. Satwa tidak “menyerang” kota; mereka beradaptasi dengan perubahan yang terjadi di sekitarnya.
Kesimpulan
Evakuasi sanca kembang di kawasan permukiman Gresik menegaskan pentingnya respons cepat, literasi publik, dan pendekatan humanis dalam menangani interaksi manusia–satwa. Meski bukan satwa dilindungi, penanganan tetap mengedepankan keselamatan dan kesejahteraan kedua belah pihak.
Kejadian ini menjadi pengingat bahwa berbagi ruang dengan satwa adalah realitas yang perlu dikelola dengan pengetahuan dan empati. Dengan kerja sama warga dan otoritas konservasi, perjumpaan tak terduga dapat diselesaikan tanpa kepanikan, tanpa kekerasan, dan dengan hasil yang bertanggung jawab.

Cek Juga Artikel Dari Platform marihidupsehat.web.id
